Bukan soal kapan
Di usia tertentu isi obrolan teman pelan-pelan berubah. Yang dulu saling kirim jawaban tugas, sekarang saling kirim foto pasangan. Yang dulu ribut cari tempat nongkrong, sekarang ribut milih konsep pernikahan. Bahkan yang biasanya paling sering bilang, "Alah, santai aja dulu," justru tiba-tiba dateng bawa undangan.
Lalu, muncullah pertanyaan yang rasanya hampir selalu ada di fase ini.
"Nggak mau cari pacar?"
"Kalau nggak coba deketin, mau kapan?"
Ya memang, pertanyaan itu rasanya susah juga untuk dibantah. Soalnya sekarang kisah asmara rasanya ada di mana-mana. Timeline isinya couple. Teman-teman mulai sibuk sama ceritanya masing-masing. Sampai pertanyaan, "Udah punya pacar belum?" terdengar sesantai, "Udah makan belum?" Hehe.
Tanpa sadar, ekspektasi sosial ikut terbentuk. Seolah-olah ada fase yang harus sama-sama dilalui. Kalau belum sampai di fase yang sama, rasanya seperti sedang tertinggal. Padahal, setiap orang sedang menjalani hidup dengan ritmenya. Mungkin ada yang sedang membangun hubungan, ada yang memilih fokus pada hal lain. Ada juga yang masih belajar memahami dirinya sendiri.
Sayangnya, di tengah ramainya obrolan tentang kapan memulai, ada satu hal yang justru jarang dibahas: bagaimana menyikapi ketika rasa itu datang. Karena ya barangkali yang lebih menantang justru menjaganya. Biar kagum nggak berubah menjadi memaksa, suka nggak berubah menjadi obsesi, dan harapan nggak membuat kita kehilangan batas, apalagi ketenangan.
Mungkin, di tengah ramainya ekspektasi sosial, yang paling penting bukan cuman cepat-cepat sampai di fase tertentu.
Tapi tetap mampu menjaga hati, menghargai pilihan sendiri, dan menghormati perjalanan atau pilihan orang lain. Karena nggak semua orang berjalan dengan ritme yang sama.
di jalan pun kebanyakan org bucin😔
BalasHapussalah satunya kamu yaa ka anis? 😭🙏🏻
Hapus