Postingan

Seikat

Bunga lama sudah hampir selesai waktunya Warnanya sudah tidak terang Kelopaknya menunduk pelan Namun tetap berdiri, seakan ingin tetap menemani Nek, aku datang Langkahku pelan  Mataku sedikit basah Tapi ini bukan payah Ini bukan yang pertama Namun rasanya selalu seperti saat pertama Mungkin memang ini yang disebut kehilangan Aku letakan seikat yang baru Tanpa kata Hanya doa dan harapan Ingin mimpi dimalam🤍

Bukan soal kapan

Di usia tertentu isi obrolan teman pelan-pelan berubah. Yang dulu saling kirim jawaban tugas, sekarang saling kirim foto pasangan. Yang dulu ribut cari tempat nongkrong, sekarang ribut milih konsep pernikahan. Bahkan yang biasanya paling sering bilang, "Alah, santai aja dulu," justru tiba-tiba dateng bawa undangan. Lalu, muncullah pertanyaan yang rasanya hampir selalu ada di fase ini. "Nggak mau cari pacar?" "Kalau nggak coba deketin, mau kapan?" Ya memang, pertanyaan itu rasanya susah juga untuk dibantah. Soalnya sekarang kisah asmara rasanya ada di mana-mana. Timeline isinya couple. Teman-teman mulai sibuk sama ceritanya masing-masing. Sampai pertanyaan, "Udah punya pacar belum?" terdengar sesantai, "Udah makan belum?" Hehe. Tanpa sadar, ekspektasi sosial ikut terbentuk. Seolah-olah ada fase yang harus sama-sama dilalui. Kalau belum sampai di fase yang sama, rasanya seperti sedang tertinggal. Padahal, setiap orang sedang menjalani hid...

Pulang

Pulang bagi sebagian orang adalah pelukan Sebagian lagi, hanya dinding tinggi yang berduri Katanya..  Sabda yang sampai seperti perintah bahwa emosi dan buah pikiran harus dipendam dan dikekang Perih yang tidak kenal sebab, begitupun dengan senang Membuat sengit dan ingin terbang menentang Katanya.. Rasanya persis berada di penjara rasa Diharuskan pandai menangis tanpa air mata Celakanya, tertawa pun sudah tidak ada suara Kadang ia sengaja terlihat bebas meski dengan kumpulan tali ikatan Alih-alih menyenangkan, padahal menutupi lebam-lebam di tangan Ternyata, selama ini aku terlalu mudah menyamakan arti pulang dengan yang kupunya Padahal pulang nggak selalu berarti rumah yang hangat Karena selalu saja.. Ada yang pulang disambut pelukan, ada pula yang disambut sunyi oleh luka-luka yang belum selesai Ada yang menemukan ruang untuk menetap, dan ada juga yang masih mencari tempat untuk lengkap Sejak itu Aku nggak lagi bertanya mengapa seseorang enggan pulang Sebab mungkin, Bukan langka...

Kenapa tidak?

Mungkin setiap orang punya satu "kenapa tidak?" dalam hidupnya. Tentang hal-hal yang saat itu terasa biasa saja, tetapi bertahun-tahun kemudian masih sesekali datang mengetuk pikiran. Bukan tentang keputusan-keputusan besar dalam hidup yang sering disesali orang. Apalagi soal nggak jadi deketin gebetan yang akhirnya malah diambil teman. Yaelah... Tapi tentang satu keputusan kecil yang saat itu terasa biasa saja. Kesempatan yang nggak diambil, langkah yang nggak jadi dicoba, kelas yang nggak diikuti, atau... satu organisasi yang nggak jadi buat diikuti. Alasannya mungkin sederhana. Karena nggak semua orang merasa cukup berani untuk mencoba sesuatu yang baru. Ada yang pernah lelah karena pengalaman sebelumnya, ada yang merasa dirinya nggak cocok. Lagipula, saat itu nggak semua orang menyadari bahwa keputusan kecil bisa menyimpan begitu banyak kemungkinan. Tapi, barangkali memang ada beberapa pertanyaan yang nggak terpikir pas keputusan itu dibuat, tapi justru pas bertahun-tahun...

Halo

Aku Lia, bukan penulis handal yang bisa menciptakan prolog yang menarik perhatian pembaca di satu menit pertama, hehe. Tapi kayaknya keinginan untuk menulis bukan cuma milik penulis. Walaupun rasanya sudah sangat telat untuk memulai, tapi ya sudahlah... sikat. Ada banyak hal yang ingin disimpan, tapi tidak semuanya bisa diceritakan lewat suara. Sebagian terlalu sepele untuk dijadikan cerita, sebagian lagi terlalu berisik kalau cuma disimpan di kepala. Jadi, kusimpan di sini saja. Blog ini bukan tempat untuk mencari jawaban atas semua hal. Mungkin cuma berisi kumpulan kata, puisi sederhana, dan yapping tipis tentang hal-hal yang sering terlintas di kepala. Tentang rasa syukur, keresahan, entah penting atau tidak penting. Mirip buku diary bergambar Princess Belle yang kutulis pas usia sembilan tahun. Biar pertemuan ini sama seperti pertemuan pada umumnya, jadi perkenalkan.. Aku Lia, bukan pacarnya Dilan. Si anak pertama yang usianya tergantung kapan kalian membacanya. Yang jelas, aku lah...